about

Minggu, 31 Oktober 2010

Faktor Penyebab BBLR dan Pencegahannya

Dikatakan bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah ketika beratnya <2500 gram. BBLR rentan terhadap kekurangan nutrisi, infeksi, dan keterlambatan perkembangan saraf.
Ada 2 tipe BBLR :
1.      Prematur yaitu bayi yang lahir lebih awal dari waktunya (kehamilan <  37 minggu).
2.      Bayi kecil masa kehamilan (KMK) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi memiliki berat badan kurang.
Biasanya untuk Negara berkembang penyebab BBLR adalah karena bayi KMK, sedangkan untuk Negara maju karena lahir premature.
Penyebab BBLR:
1.      Faktor Ibu
·         Ibu hamil yang kekurangan gizi saat hamil
Kekurangan gizi saat hamil akan berakibat buruk terhadap janin seperti prematuritas, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran mati atau kematian neonatal dini. Penentuan status gizi yang baik yaitu dengan mengukur berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikan berat badan selama hamil.
·         Berat badan ibu yang rendah
·         Umur ibu hamil <20 tahun atau >35 tahun
Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara fisik dan emosional belum matang, selain pendidikan yang juga pada umumnya masih rendah. Kelahiran BBRL lebih tinggi pada ibu-ibu usia <20 tahun (Doenges, 2001:148).
Pada ibu-ibu yang sudah tua meskipun telah berpengalaman tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai meurun sehingga dapat mempengaruhi janin intrauterine dan dapat menyebabkan BBLR (Setyowati, 1996).
·         Jarak kehamilan terlalu dekat
Jarak kehamilan <2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan pendarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik (Departemen Kesehatan, 1998:33).
Ibu yang jarak kehamilan terlalu dekat <2 tahun akan mengalami peningkatan resiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk juga karena Placenta previa, anemia, dan ketuban pecah dini dapat menyebabkan bayi BBLR (Ilyas, 1995:106)

·         Paritas Ibu
Jumlah anak lebih dari 4 dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin sehingga dapat mengakibatkan BBLR dan perdarahan saat melahirkan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah (Departemen Kesehatan, 1998:33)
·         Ibu hamil merokok (baik sebelum hamil atau pada masa kehamilan)
Penelitian yang dilakukan oleh BMA Tobacco Control Resource Centre menunjukkan bahwa ibu yang merokok selama kehamilan memiliki risiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 1,5-9,9 kali dibandingkan dengan berat badan lahir bayi dari ibu yang tidak merokok.
Merokok selama hamil mempunyai efek merupakan pada ibu dan juga janin. Sebuah penelitian eksperimental menggunakan hewan coba mencit menyimpulkan bahwa paparan asap rokok yang diberikan selama masa kehamilan hari ke-0 (hari konsepsi), 1 dan 2 menyebabkan retardasi pertumbuhan embrio, sedangkan paparan asap rokok selama masa kehamilan hari ke-0 hingga hari ke-17 menyebabkan penurunan berat badan fetus. Dalam penelitian ini, mencit dipapar asap rokok selama 10 menit, 3 kali sehari.
Radikal bebas yang terkandung dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan endotel, peningkatan vasokonstriktor, dan penurunan vasodilator. Nikotin yang terkandung dalam asap rokok dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Semua hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Hipertensi dapat menyebabkan penurunan suplai makanan dan oksigen fetus. Radikal bebas juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru sehingga dapat terjadi PPOK. PPOK akan menyebabkan penurunan oksigenasi fetus. Selain itu, radikal bebas juga dapat mengganggu metabolisme asam folat. Dengan adanya gangguan metabolisme asam folat berarti nutrisi pertumbuhan fetus akan terganggu dan juga akan mempengaruhi ekspresi gen fetus. Akibatnya secara tidak langsung, hipertensi, PPOK, dan defisiensi asam folat akan menimbulkan gangguan pertumbuhan fetus yang pada akhirnya akan dapat menyebabkan BBLR.
·         Peminum alcohol
Ibu hamil yang meminum alcohol maka janin yang dikandungnya akan beresiko Fetal Alkohol Syndron (FAS) yang berhubungan dengan masalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak dalam masa kehamilannya. Saat ibu yang sedang hamil meminum minuman beralcohol maka alcohol tersebut akan dibawa masuk ke dalam tubuh dan dapat dengan mudah beredar hingga masuk melalui placenta menuju janin. Janin tersebut tidak dapat menyingkirkan alcohol yang masuk, akibatnya janin menjadi subjek penimbunan kadar alcohol yang tinggi untuk jangka waktu yang lama.
Konsumsi pada awal kehamilan cenderung menyebabkan kecacatan pada otak atau tubuh. Konsumsi pada akhir kehamilan cenderung berefek pada penyerapan nutrisi janin dan fungsi motorik halus otak. Hal ini termasuk perkembangan kepribadian dan kemampuan untuk belajar. 
Gejala yang ditimbulkan dari FAS yaitu:
a.       Bentuk wajah abnormal, termasuk susunan rahang yang buruk dan bibir atas serta bentuk rahang hidung rata.
b.      Masalah tingkah laku, seperti pemusatan perhatian yang kurang dan hiperaktif.
c.       Keterlambatan perkembangan atau retardasi mental.
d.      Epilepsy atau serangan kejang.
e.       Kegagalan pertumbuhan stsu keterlambatan pertumbuhan fisik.
f.       Kesulitan belajar.
g.      Lahir BBLR dan ukuran lingkar kepala kecil.
h.      Cacat kecil pada tangan dan kaki.
i.        Kerusakan organ, termasuk penyakit jantung bawaan.
j.        Kurang koordinasi fungsi motorik tubuh.
k.      Kurang memiliki kemampuan mengingat-ingat.
l.        Kurang dalam hal bersosialisasi dan suka berimajinasi.
·         Pengguna narkotika
·         Pernah melahirkan bayi premature sebelumnya
2.      Faktor Kehamilan
·         Hodroamnion
Hidroamnion kadang-kadang disebut juga polihihidroamnion merupakan keadaan cairan amnion yang berlebihan. Hidroamnion dapat menimbulkan persalinan sebelum kehamilan 28 minggu sehingga dapat menyebabkan kelahiran premature dan meningkatkan resiko BBLR (Cuningham, 1995:625).
·         Cervical incompetence (mulut rahim yang lemah hingga tak mampu menahan berat bayi dalam rahim)
·         Antepartum hemorrhage (perdarahan kehamilan di atas 22 minggu atau saat persalinan)
Antepartum hemorrhage menyebabkan anemia dan syok sehingga keadaan ibu memburuk. Keadaan ini memberikan gangguan pada placenta yang menyebabkan anemia pada janin bahkan dapat pula terjadi syok intrauterine yang menyebabkan kematian bayi intrauterine (Wiknjosastro, 1999:365). Apabila janin dapat diselamatkan dapat terjadi BBLR, sindrom gagal napas, dan komplikasi asfiksia (Mansjoer, 1999:279).
·         Komplikasi Selama Kehamilan
a.       Pre-eklampasia/Eklampasia
Pre-eklampasia/eklampasia dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan janin dalam kandungan atau IUGR dan kelahiran mati. Hal ini dikarenakan terjadinya perkapuran di daerah placenta, sedangkan janin memperoleh makanna dan oksigen dari placenta, dengan adanya perkapuran di daerah placenta, suplai makanan dan oksigen yang masuk ke janin berkurang (Ilyas, 1995:5).
b.      Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ketuban dinyatakan pecah sebelum waktunya apabila terjadi sebelum proses persalinan. KPD disebabkan karena berkurangnya kekuatan membrane yang diakibatkan oleh infeksi yang berasal dari vagina dan serviks (Mansjoer, 1999:310).
c.       Hipertensi
Hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab penting terjadinya kelahiran mati dan kematian neonatal (Sukadi, 2000:3). Hipertensi pada ibu hamil akan menyebabkan terjadinya insufisiensi placenta dan hipoksia sehingga pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran premature (sukadi, 2000:6).
3.      Faktor Janin
·         Cacat Bawaan (Kelainan congenital)
Kelainan congenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur janin yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi dengan kelainan congenital biasanya akan lahir BBLR atau janin kecil utnuk masa kehamilannya. Bayi BBLR dengan kelainan congenital yang mempunyai berat sekitar 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya (Wiknjosastro, 1997:723).
·         Infeksi dalam Rahim
Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan metabolism tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin terganggu atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh hepatitis dapat menyebabkan abortus atau persalinan prematuritas dan kematian janin dalam rahim (Manuaba, 1998:277).
Wanita hamil dengan infeksi rubella dapat menyebabkan bayi BBLR, cacat bawaan, dan kematian janin (Mochtar, 1998:181).
·         Kehamilan ganda
Berat badan janin pada kehamilan ganda tidak sama, dapat berbeda antara 50-1000 gram. Hal ini disebabkan pembagian darah pada placenta untuk kedua janin tidak sama (Wiknjosastro, 1999:391).
Regangan uterus yang berlebihan pada kehamilan ganda merupakan salah satu factor yang menyebabkan BBLR (Departemen Kesehatan, 1996:14). Pada kehamilan ganda, distensi uterus berlebihan sehingga melewati batas toleransi dan sering terjadi partus prematus.
·         Kelainan kromosom


Upaya Pencegahan
  1. Melaksanakan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi dan merujuk bila terdapat kelainan.
  2. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga mencegah terjadinya BBLR. Pada ibu hamil mengkonsumsi makan-makanan yang bergizi. Perhatikan jenis makanan pada masa tiap trimester kehamilan.
  3. Rencanakan kehamilan sehingga sebelum terjadinya konsepsi sudah terlebih dulu memperbaiki status gizi si ibu.
  4. Mengikuti keluarga berencana.
  5. Memperhatikan perawatan selama kehamilan agar terhindar dari infeksi.
  6. Lebih banyak istirahat, dan kurangi aktivitas berat.
  7. Hindari alcohol, narkotika, obat-obatan yang tidak perlu, dan jamu.
  8. Memperhatikan jarak kehamilan, sebaiknya >2tahun.

Kondisi yang Diijinkan Menggugurkan kandungan


Menurut Fact About Abortion, Info Kit on Women’s Health oleh Institute for Social, Studies and Action, Maret 1991, dalam istilah kesehatan aborsi didefinisikan sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi dalam rahim (uterus), sebelum usia janin (fetus) mencapai 20 minggu.
Dibedakan dua macam aborsi yaitu
  1. Aborsi spontan/alamiah atau Abortus spontaneous
Berlangsung tanpa tindakan apapun, dapat disebabkan karena kurang baiknya sel telur dan sperma, karena kecelakaan seperti terjatuh, kandungan lemah, kurangnya daya tahan tubuh karena aktivitas yang berlebihan, pola makan yang salah, dan keracunan.
  1. Aborsi sengaja atau Aboortus provokatus criminalis
Pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).
Jadi kondisi diperbolehkannya melakukan aborsi karena adanya indikasi medis, dalam hal ini terkait dengan jenis aborsi medis atau abortus provokatus therapeuticum.
Pelaksanaan aborsi adalah sebagai berikut. Kalau kehamilan lebih muda, lebih mudah dilakukan. Makin besar makin lebih sulit dan resikonya makin banyak bagi si ibu, cara-cara yang dilakukan di kilnik-klinik aborsi itu bermacam-macam, biasanya tergantung dari besar kecilnya janinnya.
  1. Abortus untuk kehamilan sampai 12 minggu biasanya dilakukan dengan MR/ Menstrual Regulation yaitu dengan penyedotan (semacam alat penghisap debu yang biasa, tetapi 2 kali lebih kuat).
  2. Pada janin yang lebih besar (sampai 16 minggu) dengan cara Dilatasi & Curetage.
  3. Sampai 24 minggu. Di sini bayi sudah besar sekali, sebab itu biasanya harus dibunuh lebih dahulu dengan meracuni dia. Misalnya dengan cairan garam yang pekat seperti saline.  Dengan jarum khusus,  obat itu langsung  disuntikkan  ke dalam rahim, ke dalam air ketuban, sehingga anaknya keracunan,  kulitnya terbakar, lalu mati. 
  4. Di atas 28 minggu biasanya dilakukan dengan suntikan prostaglandin sehingga terjadi proses kelahiran buatan dan anak itu dipaksakan untuk keluar dari tempat pemeliharaan dan perlindungannya.
  5. Juga dipakai cara operasi Cecar seperti pada kehamilan yang biasa.

Dibolehkannya aborsi:
  1. Janin yang dikandung sudah meninggal.
Dalam hal ini bisa dilakukan operasi untuk mengeluarkan bayi. Karena menetapnya janin yang dudah mati dalam kandungan justru akan menghalangi ibu untuk bisa hamil lagi dikrmudian hari.
  1. Infeksi akut, yaitu meliputi:
a.       Virus, misal cacar, rubella, hepatitis
b.      Infeksi bakteri, misal streptococcus
c.       Parasit, misal malaria
  1. Infeksi kronis, yaitu meliputi:
a.       Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua
b.      Tuberculosis paru aktif
c.       Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, raksa, dll
d.      Penyakit kronis, misalnya hipertensi, nephritis, diabetes, anemia berat, penyakit jantung
  1. Mengalami hidroamnion akut.
  2. Ibu hamil telah berulang kali mengalami caecar.
  3. Kehamilan ektopik.
  4. Penyakit ganas pada saluran jalan lahir misalnya kanker cerviks atau jika dengan adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit keganasan lainnya pada tubuh seperti misalnya kanker payudara.
  5. Prolaps uterus gravid yang tidak bisa diatasi.

Akibat menggugurkan kandungan pada ibu hamil
Aborsi memiliki resiko berkepanjangan terhadap kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita yaitu mengakibatkan resiko fsik dan psikologis.
Dalam buku “Fact of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd, resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi yaitu:
  1. Kematian mendadak karena perdarahan hebat
  2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
  3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan
  4. Rahim yang sobek (Uterine perforation)
  5. Kerusakan leher rahim (Cervical lecerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak beriktunya.
  6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormn estrogen pada wanita)
  7. Kanker indung telur (Ovarian cancer)
  8. Kanker leher rahim (Cervical cancer)
  9. Kanker hati (Liver cancer)
  10. Kelainan pada placenta (placenta previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan perdarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
  11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic pregnancy)
  12. Infeksi rongga panggul (Pelvvic inflammatory disease)
  13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
Aborsi juga berdampak pada psikologis wanita yang dalam ilmu psikologi disebut dengan Post-Abortion Syndrome.


Dampak Kegemukan Pada Anak


  1. Resiko Psikososial
Resiko psikososial yang dapat terjadi adalah rasa rendah diri, depresif, dan menarik diri dari lingkungan. Hal tersebut dikarenakan anak yang overweight/obesitas sering menjadi olok-olok teman misalnya karena tidak mampu melaksanakan olahraga tertentu.  Selain itu pada remaja timbul rasa tidak percaya diri karena kekhawatiran melihat teman lain sebaya yang tampil cantik dan menawan.
2.       Resiko Fisiologis
a.       Factor resiko penyakit kardiovaskuler
Berkaitan dengan adanya peningkatan kadar insulin, trigliserida, LDL-kolesterol, dan tekanan darah sistolik serta penurunan kadar HDL-kolesterol. Anak obesitas cenderung mengalami peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, sekitar 20-30% menderita hipertensi.
Studi yang dipublikasikan di Journal of The American College of Cardiology mengatakan bahwa obesitas merupakan factor resiko utama pembesaran atrium jantung kiri.  Pembesaran jantung ini nantinya akan meningkatkan resiko fibrilasi (ritme atau detak jantung tidak normal), stroke, dan kematian.
b.      Factor resiko diabetes mellitus tipe 2
c.       Obstructive sleep apnea
Pada anak yang obesitas, terjadi penebalan jaringan lemak di daerah dinding dada dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma sehingga terjadi penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot yang mengatur pergerakan lidah yang menyebabkan lidah jatuh kea rah dinding belakang faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafat intermitten dan menyebabkan tidur gelisah.  Sehingga keesokan harinya anak cenderung mengantuk dan hipoventilasi. Dari penelitian, dijumpai kejadian anak yang obesitas 1 dari 100 dengan gejala mengorok saat tidur.
d.      Gangguan ortopedik
Anak yang obesitas cenderung beresiko mengalami gangguan ortopedik yang disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan panggul.
e.      Gangguan kulit
Obesitas menyebabkan kulit sering lecet karena gesekan, anak sering merasa gerah dan kepanasan yang sering disertai gejala biang keringat maupun jamur pada daerah lipatan kulit.
f.        Pseudotumor serebri
Terjadi akibat peningkatan ringan tekanan intracranial yang disebabkan oleh gangguan jantung dan paru-paru yang menyebabkan penignkatan kadar CO2 dan memberikan gejala sakit kepala, papil edema, diplopia, kehilangan lapangan pandang perifer, dan iritabilitas.
g.       Gangguan endokrin
Anak cenderung cepat mengalami pubertas.  Pada anak perempuan, menstruasi dapat datang lebih cepat.  Kematangan seksualnya lebih cepat, pertumbuhan rambut kelamin dan ketiak juga lebih cepat.
h.      Pertumbuhan tubuh
·         Tinggi badan
Anak obesitas relative lebih tinggi pada remaja awal tetapi pertumbuhan memanjangnya selesai lebih awal sehingga pada akhirnya tinggi badannya relative lebih pendek dari anak sebaya.
·         Wajah
Bentuk muka menjadi tidak proporsional yaitu hidung dan mulut relative kecil, dagu berlipat.
Terjadi timbunan lemak di sekitar payudara, perut menggantung, dan sering disertai dengan garis-garis keputihan.


DAFTAR PUSTAKA
Siti Nur Hidayati, Rudi Irawan, dan Boerhan Hidayat. Obesitas pada Anak.  FK UNAIR Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik
Obesitas Beresiko Jantung Membesar. http://www.gizi.net
Juanita, Vivi. 2004. Obesitas pada Anak. http://www.gizi.net